Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) membawa sejumlah program pengabdian masyarakat ke Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, melalui Ekspedisi Dahlan Muda. Program tersebut menyasar sejumlah kebutuhan masyarakat, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga sosial-keagamaan.
Ekspedisi Dahlan Muda dilaksanakan dengan menempatkan mahasiswa langsung di tengah kehidupan masyarakat Mentawai. Selain menjadi ruang pengabdian, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memahami kondisi sosial dan kearifan lokal masyarakat setempat.
Sejumlah program dijalankan selama ekspedisi. Di bidang ekonomi, mahasiswa melakukan pendampingan digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar produk lokal Mentawai dapat dipasarkan melalui kanal digital dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Di bidang pendidikan, tim menyerahkan hibah buku bacaan untuk Rumah Belajar Anak Suku Mentawai di kawasan Taman Nasional Siberut.
Sementara di bidang sosial-keagamaan, mahasiswa menyerahkan hibah Al-Qur’an dan Iqra untuk masjid setempat melalui kerja sama dengan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LazisMu) Wilayah DIY.
Tim juga berkoordinasi dengan Kantor Urusan Agama (KUA) desa untuk mengoptimalkan program pembinaan bagi masyarakat mualaf.
Presiden Mahasiswa BEM UAD, Muhammad Ilham, mengatakan Ekspedisi Dahlan Muda merupakan bentuk penerapan nilai-nilai Muhammadiyah dalam gerakan mahasiswa, khususnya pencerahan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami ingin mahasiswa UAD tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga punya keberpihakan yang jelas terhadap persoalan-persoalan sosial di masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini jarang tersentuh program pengabdian,” ujar Ilham dalam keterangan yang diterima Narasi Moderat, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, Mentawai dipilih karena memiliki kebutuhan sosial yang nyata sekaligus potensi lokal yang masih dapat dikembangkan.
Ilham menegaskan, Ekspedisi Dahlan Muda tidak diarahkan sebagai kegiatan seremonial yang berhenti setelah mahasiswa kembali ke kampus.
“Kami tidak ingin ekspedisi ini hanya meninggalkan foto dan laporan kegiatan. Yang kami kejar adalah dampak jangka panjang UMKM yang benar-benar naik kelas, anak-anak yang makin gemar membaca, jamaah yang makin nyaman beribadah, dan mualaf yang merasa didampingi,” tegasnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan BEM UAD, Muhammad Zulfikar, mengatakan ekspedisi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan kearifan lokal masyarakat.
“Ekspedisi Dahlan Muda ini hadir sebagai ikhtiar memperluas cakrawala mahasiswa melalui penghayatan langsung atas realitas pendidikan dan sosial, khususnya masyarakat Mentawai,” kata Zulfikar.
Ia menyebut pengalaman tersebut dapat membentuk kepekaan sosial, keberpihakan, dan tanggung jawab intelektual mahasiswa.
Selain program langsung kepada masyarakat, BEM UAD juga menyiapkan film dokumenter mengenai budaya Mentawai. Film tersebut akan mengangkat kearifan lokal, tradisi, dan kehidupan masyarakat adat Mentawai.
Karya audiovisual itu direncanakan didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan dipromosikan melalui berbagai kanal hingga tingkat nasional dan internasional.
BEM UAD juga menjadikan pengalaman lapangan sebagai bagian dari proses pembelajaran mahasiswa. Peserta ekspedisi diharapkan memperoleh pengalaman dalam kepemimpinan, membangun empati, serta menyelesaikan persoalan masyarakat secara langsung.
Ke depan, Ekspedisi Dahlan Muda direncanakan menjadi program berkelanjutan dengan cakupan wilayah yang lebih luas. Evaluasi dan pemetaan kebutuhan masyarakat akan dilakukan sebagai dasar penyusunan program lanjutan.
Melalui ekspedisi tersebut, BEM UAD ingin menjadikan mahasiswa bukan hanya sebagai penerima pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang mampu menerjemahkan ilmu menjadi aksi nyata.
Kehadiran mahasiswa UAD di Mentawai diharapkan meninggalkan manfaat yang dapat terus dirasakan masyarakat, sekaligus memperkuat peran mahasiswa dalam pengabdian dan pemberdayaan masyarakat.
