KREASI Ketapang Gelar Workshop Sekolah Lindungi Asap, Siapkan Sekolah Hadapi Karhutla

by Yoan Pramoga

Program Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia (KREASI) Ketapang menggelar Workshop Pilot Project “Sekolah Lindungi Asap” di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, Jumat (28/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan Program KREASI Ketapang yang di implementasikan oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini membahas kesiapsiagaan sekolah menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kabut asap terhadap proses pendidikan.

Project Manager KREASI Ketapang, Santoso Setio, mengatakan karhutla bukan persoalan baru bagi masyarakat Ketapang. Menurutnya, kabut asap akibat karhutla dapat berdampak langsung terhadap aktivitas pendidikan, termasuk membuat siswa harus mengikuti pembelajaran dari rumah (BDR).

“Bencana karhutla bukanlah bencana yang asing bagi kita. Kita sudah beberapa kali mengalaminya. Dampaknya, anak-anak di sekolah akan belajar dari rumah. Meskipun program ini tidak ada dalam program KREASI, dampaknya dirasakan beberapa program yang membutuhkan guru dan murid,” ujar Santoso.

Ia menjelaskan, konsep Sekolah Lindungi Asap merupakan pengembangan dari pengalaman Sekolah Aman Asap yang digagas oleh Ananto Kusuma.

Pada 2015, konsep tersebut dikembangkan setelah Ananto mendapat mandat dari Presiden Joko Widodo untuk membuat sekolah aman dari dampak kabut asap. KREASI Ketapang mencoba menerapkan pilot project di salah satu sekolah yaitu SDN 05 Muara Pawan, Tanjungpura, yang dinilai terdampak kabut asap.

“Untuk KREASI, penerapan tersebut akan diberikan kepada enam kelas dan ruang guru,” katanya.

Indeks Udara Ketapang Capai 220

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, Dharma, menyambut baik pelaksanaan workshop tersebut. Ia menyebut kondisi kualitas udara di Ketapang sempat mencapai angka 220 yang masuk kategori berbahaya.

Dharma mengatakan kondisi tersebut harus menjadi perhatian karena berdampak terhadap aktivitas belajar mengajar.

“Beberapa waktu lalu ada guru yang menanyakan apakah BDR akan diperpanjang atau tidak. Saya menegaskan bahwa guru harus intens mendampingi murid sehingga tidak menumpuk,” ungkapnya.

Ia meminta sekolah tidak hanya berfokus pada proses pembelajaran, tetapi juga memastikan lingkungan sekolah tetap aman bagi siswa dan guru.

“Saya sangat mendukung kegiatan ini dan menyambut baik. Saya mengajak bapak ibu sekalian untuk menjadikan sekolah menjadi tempat yang aman asap,” tuturnya.

Dharma berharap workshop tersebut memberikan manfaat bagi dunia pendidikan di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Ia juga mengajak peserta melihat langsung penerapan konsep Sekolah Lindungi Asap di SDN 05 Muara Pawan.

“Besok harapannya kita bisa hadir di SDN 05 Muara Pawan untuk dapat melihat implementasi sekolah aman asap,” tambahnya.

Bahas Dampak Kabut Asap hingga Kesiapan Sekolah

Workshop tersebut juga diisi dengan sejumlah materi dari instansi terkait. Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang melalui Dian Kusuma Ningsih menyampaikan materi tentang mengenal kabut asap dan dampaknya terhadap kesehatan.

Sementara Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang melalui Rajiansyah membahas kebijakan pendidikan dalam menghadapi bencana kabut asap berdasarkan Surat Edaran Nomor 20 Tahun 2026.

Materi lainnya disampaikan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang melalui Riski Ratnasari mengenai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Dalam materi tersebut dijelaskan sejumlah parameter pencemar udara yang diuji, di antaranya PM10, PM2.5, NO2, CO, O3, dan HC.

Workshop mengidentifikasi sejumlah persoalan yang perlu diantisipasi sekolah saat terjadi kabut asap. Di antaranya risiko kesehatan bagi warga sekolah, khususnya anak-anak yang rentan mengalami ISPA, batuk, sesak napas dan iritasi.

Kualitas udara yang buruk juga dapat mengganggu proses pembelajaran sehingga sekolah perlu menyiapkan pembelajaran alternatif, termasuk BDR.

Selain itu, masih terdapat keterbatasan sarana sekolah seperti ketersediaan masker, ruang perlindungan, pemantauan kualitas udara dan sistem pembelajaran alternatif.

Karena itu, diperlukan koordinasi lintas sektor antara sekolah, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, DLH, BPBD dan pihak terkait.

Empat Rekomendasi Sekolah Lindungi Asap

Workshop menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat kesiapsiagaan sekolah.

Pertama, meningkatkan perlindungan kesehatan warga sekolah melalui penggunaan masker sesuai standar, mengurangi aktivitas luar ruangan, memantau kondisi kesehatan serta menyediakan ruang yang terlindung dari asap.

Kedua, menyiapkan sistem pembelajaran adaptif selama kabut asap melalui BDR, modul cetak, materi offline dan komunikasi dengan orang tua sesuai kondisi serta akses masing-masing sekolah.

Ketiga, meningkatkan kesiapsiagaan dengan memantau ISPU secara berkala, menyusun SOP sekolah saat terjadi kabut asap serta memastikan ketersediaan sarana perlindungan.

Keempat, memperkuat koordinasi lintas sektor dan keberlanjutan pilot project agar model Sekolah Lindungi Asap dapat diterapkan dan dikembangkan di sekolah lainnya.

Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai Global Partnership for Education dan dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Kementerian Agama.

Di Ketapang, program ini dijalankan Save the Children bersama mitra pelaksana lokal Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Ketapang.

KREASI bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui penguatan pengajaran, pembelajaran dan pengembangan siswa.

Kirim Tulisan ke PerspektifSpace.com

Berita Terkait