Muhammad Rizki Al Mubarak, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial, Politik, Administrasi dan Komunikasi Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (FISIP-ADKOM UMPR), mengangkat akulturasi budaya Dayak dan Melayu melalui film dokumenter berjudul Hikayat yang Dihidupkan.
Film tersebut mendokumentasikan perpaduan budaya dalam Sendratari Hikayat Kutaringin. Rizki berharap karyanya dapat memperkenalkan kekayaan budaya lokal sekaligus mendorong perkembangan perfilman di Kalimantan.
“Bagi saya, karya ini bukan sekadar menyelesaikan tugas akhir. Ada proses panjang, waktu, dan banyak hal yang harus dikorbankan agar film ini benar-benar bisa selesai,” ujar Rizki dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Film Hikayat yang Dihidupkan menjadi salah satu bentuk penyelesaian tugas akhir mahasiswa Ilmu Komunikasi melalui karya audio visual. Produksinya memadukan penelitian akademik dengan praktik pembuatan film dokumenter.
Dalam proses produksi, Rizki bertindak sebagai penulis naskah sekaligus sutradara. Ia berkolaborasi dengan Akhmad Ikramul Mahbub sebagai produser.
Sendratari Hikayat Kutaringin dipilih sebagai objek utama karena memuat beragam unsur budaya, mulai dari musik, alat musik, busana, gerak tari hingga alur cerita. Film ini menelusuri perpaduan unsur budaya Banjar dan Dayak yang hadir dalam pertunjukan tersebut.
Untuk memperoleh data, Rizki melakukan observasi, dokumentasi, studi pustaka, serta wawancara dengan Rizaldi Kurniawan selaku pimpinan produksi dan Husni Riadi selaku pimpinan komposer Sendratari Hikayat Kutaringin.
Hasil dokumentasi dan wawancara kemudian dirangkai untuk menggambarkan proses produksi serta unsur budaya yang ditampilkan dalam sendratari tersebut.
Rizki, yang juga merupakan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), mengakui proses penyelesaian film dokumenter itu membutuhkan waktu panjang. Ia harus mengorbankan beberapa semester dalam perjalanan akademiknya agar karya tersebut dapat diselesaikan.
“Proses ini mengajarkan saya bahwa menyelesaikan sebuah karya membutuhkan komitmen dan keberanian untuk terus melangkah. Saya berharap apa yang saya kerjakan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk perkembangan film di Kalimantan,” katanya.
Film dokumenter Hikayat yang Dihidupkan kini dapat ditonton melalui kanal YouTube Afirmasi Rasa. Rizki berharap film tersebut dapat memperluas akses masyarakat terhadap dokumentasi Sendratari Hikayat Kutaringin dan memperkenalkan budaya lokal kepada khalayak yang lebih luas.
Ia juga berharap semakin banyak mahasiswa, komunitas, dan pelaku kreatif yang menghasilkan karya film untuk mendokumentasikan budaya, menyampaikan cerita, serta mengangkat persoalan daerah.
“Perkembangan perfilman daerah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya karya yang dihasilkan. Keberanian untuk memulai, ruang kolaborasi, dan dukungan terhadap ekosistem kreatif lokal juga sangat penting agar perfilman di Kalimantan bisa terus tumbuh,” pungkasnya.
