Kabut Asap Mengancam Proses Belajar, KREASI Ketapang Hadirkan Solusi Sekolah Lindungi Asap

by Yoan Pramoga

Program Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia (KREASI) Ketapang mulai mengimplementasikan hasil Workshop Pilot Project “Sekolah Lindungi Asap” melalui pembahasan awal pembentukan Pokja BSAN di SDN 05 Muara Pawan, Sabtu (29/8/2026). Program yang dilaksanakan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut menjadi salah satu upaya menjaga proses pembelajaran tetap berjalan di tengah dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Project Manager KREASI Ketapang, Santoso Setio, mengatakan kebijakan Belajar dari Rumah (BDR) yang diterapkan akibat kabut asap berpotensi menghambat proses pendidikan. Menurutnya, pembelajaran yang terlalu lama dilakukan dari rumah dapat memicu lost learning dan berdampak pada pemenuhan hak pendidikan anak.

“Melihat dan merespons kebijakan Belajar dari Rumah yang cukup menghambat implementasi Program KREASI, kita perlu langkah untuk mengatasinya. Anak tidak sekolah atau lost learning akan berdampak banyak dan lama, terutama terhadap pemenuhan hak pendidikan,” ujar Santoso.

Ia mengatakan KREASI kini mendorong agar kondisi udara di sekolah dapat dibuat lebih baik dibandingkan kondisi udara di rumah. Konsep tersebut diharapkan memungkinkan siswa tetap belajar di sekolah dengan perlindungan dari paparan kabut asap.

Dorong Sekolah Tetap Berjalan

Kepala Desa Tanjungpura Muara Pawan, Hidayat, menyambut baik penerapan konsep Sekolah Lindungi Asap di SDN 05 Muara Pawan. Ia mengatakan wilayah tersebut merupakan salah satu daerah yang terdampak karhutla.

“Kami mengucapkan terima kasih dan merasa terhormat telah mengimplementasikan sekolah aman asap di sekolah ini. Besar harapan kami sekolah dapat berjalan seperti biasa,” ucapnya.

Menurutnya, kabut asap telah memberikan dampak terhadap aktivitas sekolah dan proses pembelajaran. Ia berharap program tersebut dapat diterapkan dengan baik sehingga kegiatan pendidikan tetap berjalan.

Perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang, Khairuddin, mengatakan kondisi kabut asap di Ketapang cukup berdampak, terutama di wilayah Tanjungpura. Ia menilai penerapan BDR tidak dapat berlangsung terlalu lama karena dapat memengaruhi proses belajar anak.

“BDR memang tidak bisa lama-lama karena akan berdampak pada anak. Kami sangat terbantu dengan KREASI Ketapang yang memberikan program percontohan Sekolah Lindung Asap,” jelas Khairuddin.

Khairuddin juga meminta guru tetap menjalankan tugas selama kebijakan BDR berlangsung dan tidak memberikan tugas yang terlalu membebani siswa.

“Untuk semua guru diharapkan tidak memberikan tugas yang sangat membebani anak. Guru-guru juga harus standby di sekolah,” tambahnya.

DPRD Siap Dukung Perluasan Program

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Ketapang, Rion Sardi, menilai program Sekolah Lindungi Asap merupakan solusi yang efektif untuk menjaga proses belajar mengajar di tengah bencana kabut asap. Menurutnya, pembelajaran dari rumah yang berlangsung terlalu lama berisiko membuat proses belajar tidak efektif karena anak sulit fokus.

“Program Sekolah Lindung Asap ini sangat membantu dan tentunya ide yang efektif. Kita menyadari bencana ini sangat ekstrem dengan efek yang terlihat dalam proses belajar mengajar,” tuturnya.

Ia berharap program tersebut tidak hanya diterapkan di Ketapang, tetapi dapat diperluas hingga Kabupaten Kayong Utara.

“Kami siap support. Untuk biaya, kita akan ajukan ke pemerintah daerah agar penerapan ini lebih maksimal. Pendidikan dan kesehatan menjadi hal utama yang terus kami tingkatkan,” tegasnya.

Rion juga mengapresiasi KREASI yang menghadirkan inovasi untuk membantu peningkatan kualitas pendidikan di Ketapang.

Sekolah Lindungi Asap Bisa Dibangun dengan Biaya Ringan

Keynote Speech dalam kegiatan tersebut disampaikan secara daring oleh Dr. Ananto Kusuma Seta, Ph.D., ia mengatakan konsep tersebut dibuat untuk memastikan anak-anak tetap dapat belajar di sekolah dengan kondisi yang lebih terlindungi dan nyaman meskipun terjadi kabut asap.

“Sekolah Lindung Asap ini untuk memastikan anak-anak tetap berada di sekolah, tetapi mereka tetap terlindungi dan nyaman,” ujar Ananto.

Ia menjelaskan konsep tersebut dirancang dengan memanfaatkan barang-barang yang mudah ditemukan di sekitar, sehingga dapat diterapkan dengan biaya relatif ringan. Menurutnya, satu ruang kelas diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp1 juta.

“Masih memungkinkan membuat sekolah lindung asap dengan biaya yang ringan. Kita menggunakan dakron sebagai filterisasi. Apabila dakron sudah menghitam, bisa diganti,” katanya.

Selain dakron, sistem tersebut juga memanfaatkan exhaust fan dan perangkat lain untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruang kelas.

Ananto mengatakan pemasangan perlengkapan tersebut dapat dilakukan dengan cepat. Satu ruang kelas diperkirakan dapat dipasang dalam waktu sekitar tiga jam.

“Apabila sudah tidak diperlukan, perangkatnya juga bisa dicopot,” tutupnya.

Ia berharap konsep Sekolah Lindungi Asap dapat menjadi solusi agar siswa tidak terus-menerus kehilangan waktu belajar akibat kabut asap.

Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia merupakan program yang didanai Global Partnership for Education dan dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Kementerian Agama.

Di Ketapang, KREASI dijalankan Save the Children bersama Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Ketapang.

Kirim Tulisan ke PerspektifSpace.com

Berita Terkait