Pemadaman listrik bergilir yang dilakukan PT PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Tengah menuai kritik dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kebijakan tersebut dinilai mengganggu aktivitas usaha dan berdampak pada penurunan omzet pelaku usaha di Kota Palangka Raya.
Salah seorang pelaku UMKM di Palangka Raya, Yongki Adha, mengaku pemadaman listrik menyebabkan operasional usahanya terganggu. Sejumlah peralatan produksi tidak dapat digunakan sehingga aktivitas usaha terhenti selama listrik padam.
“Kami yang berada di daerah penghasil energi justru harus menanggung kerugian karena operasional terganggu. Mesin produksi berhenti, omzet harian turun, dan sampai sekarang belum ada kepastian kapan kondisi ini kembali normal,” ujar Yongki kepada Narasi Moderat, Selasa (30/6/2026).
Yongki menilai kondisi tersebut ironis mengingat Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah penghasil batu bara terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Minerba One Data Indonesia (MODI), Kalimantan Tengah termasuk dalam jajaran provinsi penghasil batu bara terbesar yang selama ini menjadi pemasok bahan bakar bagi sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di berbagai daerah.
Menurutnya, melimpahnya sumber daya energi di Kalimantan Tengah seharusnya diikuti dengan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat dan dunia usaha di daerah.
Ia juga menilai pemadaman bergilir berdampak langsung terhadap produktivitas UMKM yang selama ini menjadi salah satu penggerak perekonomian daerah.
“Selain menyebabkan penurunan pendapatan, pemadaman listrik juga menghambat proses produksi serta pelayanan kepada konsumen,” katanya.
Yongki berharap PT PLN segera memberikan penjelasan secara terbuka mengenai penyebab pemadaman bergilir sekaligus menyampaikan langkah-langkah konkret untuk mempercepat normalisasi pasokan listrik.
“Pemerintah dan PLN perlu memastikan masyarakat, terutama pelaku UMKM, memperoleh kepastian layanan listrik. Sebab listrik merupakan kebutuhan dasar yang sangat menentukan keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Ia berharap kondisi tersebut segera teratasi agar aktivitas usaha dapat kembali berjalan normal dan tidak semakin membebani pelaku UMKM di Kalimantan Tengah.
