Menjaga Kesehatan Tubuh dalam Perspektif Islam

by Yoan Pramoga

Oleh : Muhammad Fitriani, S.H.I., Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Kalteng

Perkembangan dunia kesehatan modern dalam beberapa dekade terakhir berlangsung sangat pesat. Teknologi kedokteran semakin canggih, rumah sakit berdiri semakin megah, alat diagnostik semakin akurat, jumlah tenaga medis terus bertambah, dan berbagai obat baru berhasil ditemukan. Secara logika, kemajuan ini seharusnya membuat manusia semakin sehat dan angka penyakit semakin menurun.

Namun realitas menunjukkan gambaran yang berbeda. Berbagai penyakit tidak menular justru terus meningkat dan menjadi beban utama kesehatan masyarakat. Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Kasus hipertensi, stroke, diabetes, gangguan saraf, hingga gangguan kesehatan mental terus bertambah dari tahun ke tahun.

Data klaim pasien BPJS Kesehatan yang pernah dipublikasikan berbagai media nasional menunjukkan bahwa penyakit tidak menular mendominasi pembiayaan kesehatan di Indonesia. Artinya, tantangan kesehatan masyarakat saat ini bukan lagi semata-mata penyakit infeksi, melainkan penyakit yang erat kaitannya dengan pola hidup dan perilaku manusia.

Fenomena tersebut menghadirkan pertanyaan penting. Mengapa ketika ilmu dan teknologi kesehatan berkembang pesat, manusia justru semakin banyak yang sakit? Pertanyaan ini layak direnungkan karena boleh jadi persoalan kesehatan tidak hanya terletak pada aspek biologis semata. Ada dimensi lain yang sering terabaikan dalam cara pandang kesehatan modern, yakni bagaimana manusia menjalani kehidupannya.

Penyakit Modern dan Perilaku Manusia

Islam memandang manusia sebagai makhluk yang utuh. Manusia bukan hanya kumpulan organ biologis, tetapi juga memiliki akal, naluri, kebutuhan jasmani, dan kebutuhan rohani. Karena itu, Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah ritual, tetapi juga memberikan panduan mengenai cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam pandangan Islam, akal berfungsi untuk memahami dan menjalankan syariat Allah. Ketika kebutuhan jasmani dan naluri dipenuhi tanpa bimbingan aturan yang benar, maka berbagai bentuk kerusakan akan muncul. Kerusakan itu tidak hanya tampak dalam aspek moral dan sosial, tetapi juga dapat berwujud gangguan kesehatan fisik maupun mental.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Demikian pula dalam Surah Asy-Syura ayat 30: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu.”

Kedua ayat tersebut menjelaskan bahwa berbagai bentuk kerusakan pada hakikatnya merupakan konsekuensi dari perilaku manusia sendiri. Dalam konteks kesehatan, penyakit dapat dipahami sebagai salah satu dampak dari perilaku yang menyimpang dari aturan Allah.

Menariknya, banyak faktor risiko penyakit modern ternyata berkaitan dengan perilaku yang memang dilarang atau dibatasi dalam Islam. Merokok, konsumsi alkohol, penyalahgunaan narkoba, pola makan berlebihan, kurang istirahat, hingga stres berkepanjangan akibat kehilangan ketenangan spiritual merupakan faktor yang secara ilmiah terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gangguan metabolik, serta gangguan kesehatan mental.

Dalam dunia medis, hal-hal tersebut disebut sebagai faktor risiko. Sementara Al-Qur’an telah lebih dahulu mengingatkan bahwa kerusakan muncul akibat ulah manusia sendiri. Dengan kata lain, banyak penyakit modern sesungguhnya tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari pilihan hidup yang dijalani manusia setiap hari.

Ikhtiar, Ketaatan, dan Pertolongan Allah

Islam menawarkan perspektif kesehatan yang lebih komprehensif. Kesehatan tidak dipandang hanya sebagai hasil intervensi medis, melainkan sebagai perpaduan antara ikhtiar manusia, ketaatan kepada Allah, dan pertolongan-Nya.

Karena itu, kesehatan dapat dipahami melalui sebuah rumusan sederhana: Kesehatan sama dengan ikhtiar nedis disertai ketaatan kaffah dan pertolongan Allah. Pertama, Islam memerintahkan manusia untuk melakukan ikhtiar medis. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula obatnya.” (HR Abu Dawud)

Hadis ini menunjukkan bahwa pengobatan, pencegahan penyakit, menjaga pola makan, berolahraga, dan memanfaatkan perkembangan ilmu kesehatan merupakan bagian dari ajaran Islam. Islam tidak mengajarkan kepasrahan tanpa usaha.

Namun Islam juga mengingatkan bahwa ikhtiar medis saja tidak cukup. Ada dimensi kedua yang tidak kalah penting, yaitu ketaatan secara menyeluruh kepada Allah. Ketaatan dalam Islam tidak terbatas pada salat, puasa, atau ibadah ritual lainnya. Ketaatan juga mencakup menjaga halal dan haram, mengendalikan hawa nafsu, menjaga akhlak, membangun keluarga yang baik, serta menjalankan syariat dalam seluruh aspek kehidupan.

Ketaatan semacam ini melahirkan pola hidup yang lebih sehat dan lebih seimbang. Berbagai penelitian modern juga menunjukkan bahwa ketenangan spiritual, kemampuan mengelola emosi, lingkungan sosial yang baik, serta gaya hidup yang teratur memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan fisik maupun mental seseorang.

Di atas semua itu, terdapat satu faktor yang sering dilupakan manusia modern, yakni pertolongan Allah. Tidak sedikit pasien yang secara medis memiliki peluang sembuh yang kecil tetapi akhirnya pulih. Sebaliknya, ada pula yang telah mendapatkan terapi terbaik namun hasilnya tidak sesuai harapan.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa hasil akhir tetap berada dalam kekuasaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Lalu bagaimana memperoleh pertolongan Allah? Allah berfirman dalam Surah Muhammad ayat 7: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian.” Ayat ini mengajarkan bahwa pertolongan Allah berkaitan erat dengan kesungguhan manusia dalam menjalankan dan memperjuangkan agama-Nya.

Karena itu, dakwah tidak hanya dimaknai sebagai ceramah di mimbar, tetapi juga sebagai upaya mengajak masyarakat kembali kepada nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks kesehatan, tenaga kesehatan Muslim tidak hanya berperan sebagai penyembuh biologis. Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan, menjauhi perilaku yang merusak, serta membangun kesadaran spiritual dalam menghadapi penyakit.

Pada akhirnya, krisis kesehatan modern mungkin bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya rumah sakit, tenaga medis, atau teknologi kesehatan. Bisa jadi yang paling kurang adalah kesadaran manusia untuk kembali kepada Allah.

Ilmu kedokteran sangat penting. Teknologi kesehatan sangat dibutuhkan. Namun manusia tidak akan pernah benar-benar sehat tanpa petunjuk dari Sang Pencipta manusia itu sendiri. Sebab Allah yang menciptakan manusia, dan Allah pula yang paling mengetahui cara menjaga kesehatan manusia, baik lahir maupun batin, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.

Kirim Tulisan ke PerspektifSpace.com

Berita Terkait